bentuk dhohir dari perjuangan Siti Sukaptinah masa kolonial dapat di lihat secara teknis pada saat ia duduk di Istri Indonesia

Perjuangan Siti Sukaptinah

Estafet karir Siti Sukaptinah sebenarnya termasuk dalam perjuangan eksistensi perempuan di masyarakat. Karena pada masanya perempuan dianggap tidak mampu bersaing dengan laki-laki. Namun pada masa itu Siti Sukaptinah mampu, tidak hanya memasuki organisasi perempuan namun juga menduduki posisi penting dari organisasi yang biasa diduduki oleh laki-laki seperti masuknya dia ke BPUPKI hingga DPR. Hal ini sebenarnya dapat merubah mindset bagi masyarakat Indonesia tentang persepsi kapasitas perempuan di segala urusan yang pada masa itu biasa ditangani oleh laki-laki, perempuan menjadi lebih yakin dan mantap untuk tidak ragu-ragu lagi bersuara dengan adanya pembuktian Siti Sukaptinah.
Selain itu secara tidak langsung estafet karir Siti Sukaptinah juga untuk mengedukasi perempuan, mengakomodir suara perempuan, dan memperjuangkan hak yang harusnya dimiliki perempuan. hal ini dapat dilihat ketika Sukaptinah menjadi seorang guru, kemudian menerbitkan majalah mingguan bernama Istri Indonesia, dan masuk dalam organisasi-organisasi keperempuanan guna membina perempuan dalam berjuang di ranah publik.
Pada hal lain bentuk dhohir dari perjuangan Siti Sukaptinah masa kolonial dapat di lihat secara teknis pada saat ia duduk di Istri Indonesia. Pada saat itu Dewan Rakyat yang bahkan di bentuk oleh Belanda sama tidak memberi kursi pada perempuan Indonesia. Pada saat itulah Siti Sukaptinah yang duduk sebagai anggota Dewan Rakyat Kota Semarang memprotes lewat pidatonya yang di muat di Istri Indonesia, cuplikannya sebagai berikut.
“Kita sudah hidup di masyarakat yang tidak membedakan satu bangsa dan bangsa lain, juga tidak membedakan laki-laki dan perempuan… bangsa kita membutuhkan tenaga perempuan baik di dalam maupun di luar raad (Dewan Rakyat)”
Pada masa kemerdekaan yang disertai dengan agresi militer Belanda, India mengundang Sukaptinah pada sebuah acara All Indian Women’s Congress yang diselenggarakan di Madras, November 1947. Pada saat itu Sukaptinah tidak mempunyai modal, paspor dan sarana pendukung lainnya untuk ke India, namun karena tekadnya ingin menyuarakan kemerdekaan Indonesia ke segala penjuru negeri maka Sukaptinah memimpin delegasi menuju India. Disertai oleh Utami, Herawati Diah (wartawan Harian Merdeka) mereka semua menumpang Kalingga Airlines milik Bijayananda Patnaik. Bijayananda Patnaik sendiri merupakan seorang kepercayaan Jawaharlal Nehru yang biasa mengemban misi bolak-balik Yogyakarta untuk membawa obat-obatan dan bantuan lain sehubungan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa Sukaptinah menduduki parlemen,

ia bergabung di barisan Masyumi yang mendukung poligami. Hal ini berbelok dari pemikiran ia yang sebelumnya pada masa kolonial menolak poligami. Bahkan ketika Komisi Nikah talak dan Rujuk tak kunjung menggolkan RUU Perkawinan yang adil, Nyonya Sumari yang menolak Poligami dari fraksi PNI ditentang oleh Sukaptinah. Perubahan Sukaptinah ini ditulis oleh Saskia Eleonora Wierienga dalam Penghancuran Gerakan perempuan di Indonesia menuturkan bahwa alasan sukaptinah mendukung poligami adalah karena ia bergabung di Masyumi yang cenderung berada di posisi pro poligami. Hal ini membuat sayap perempuan organisasi terpaksa harus mengekor mengikuti arahan kaum laki-laki.


Sumber: https://bengkelharga.com/