Deskripsi Data

Deskripsi DataDeskripsi Data

Untuk memasuki tarekat, tentu saja ada beberapa tahapan-tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi. berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Nur Sahid yang bertempat tinggal di Desa Sintru Dawe Kudus yang telah berpuluh-puluh tahun mengikuti Tarekat Kholidiyah Naqsabandiyah, beliau mengatakan jika ingin memasuki sebuah tarekat ada tahapan-tahapan ang harus dilalui, antara lain yaitu;

“Perjalan seng pertama iku pendaftaran, mandi taubat, bar mandi taubat terus diwei aturan kon wiridan, terus sholat karo istikharoh seminggu.”

Apa yang dimaksud oleh Pak Nur Sahid adalah untuk mengikuti sebuah tarekat maka ada langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seseorang, diantara yaitu;

  1. Mendaftarkan diri ke tempat tarekat dengan bertemu dengan guru (musyid) yang ada disana. Menurut beliau hal itu seperti anak yang mau mendaftarkan diri ke sekolah.
  2. Setelah mendaftarkan diri kemudian orang yang mau memasuki tarekat harus mandi taubat, mandi taubat menurut Pak Nur Sahid: “Ados taubat seng diniati taubat. Taubat iku kan ados seng njalok ngapuro kapok. Tiap wong eo keno ados taubat, niate “niat ados taubat kerono ngilangake doso gede”, maksudnya adalah mandi taubat yaitu mandi dengan niat taubat untuk meminta ampunan yang dilakukan setelah isya.
  3. Setelah itu diberi aturan untuk wiridan dan istikharoh seminggu.
  4. Setelah semua itu dilakukan barulah orang yang akan mengikuti tarekat tersebut di bai’at oleh mursyid. Dalam hal ini Pak Nur Said ketika memasuki Tarekat Kholidiyah Naqsabandiyah beliau di bai’at dan di talqin oleh Mbah Asnawi.[1]

Hal itu hampir sama dengan yang di sampaikan oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si (2013) mengenai tahapan-tahapan untuk memasuki sebuah tarekat, yaitu tahapan yang pertama, harus mandi taubat, yaitu mandi yang dilakukan setelah isya’ dengan tujuan untuk menghilangkan segala dosa yang pernah dilakukannya. Kemudian dilanjutkan dengan shalat taubat sebanyak dua rakaat. Rakaat pertama, setelah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Kafirun. Pada rakaat kedua, setelah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Ikhlas. Kemudian berdoa;

“Allahumma inni as-aluka al-taubata wa al-inabata wa al-istiqamata ‘ala al-syariati al gharrar’I wa al-thariqoti al-baidha’i.”

Artinya: “Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepadamu ampunan dan kesucian, dan keajegan di dalam melakukan syariat yang benar dan jalan yang suci.”

Setelah shalat dilanjutkan dengan membaca sholawat: “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad,” sebanyak 25 kali.

Kedua, pembai’atan, yaitu proses memasuki ajaran tarekat dalam arti yang sebenarnya. Di dalam bai’at ini yang tahu hanyalah murid dan mursyid. Dalam prosesi pembai’atan maka calon penganut tarekat diberi pakaian serba putih dan sorban putih sebagai lambang kesucian.

Ketiga, pagi harinya menjalankan puasa mutih, yaitu puasa yang ketika berbuka dan sahur hanya dengan nasi putih dan air putih saja.

Setelah semua tahapan itu dilakukan maka hal yang harus dilakukan ketika menjadi jamaah tarekat adalah mengikuti ajaran-ajaran yang ada, seperti yang disampaikan oleh Pak Nur Sahid, pada Tarekat Kholidiyah Naqsabandiyah sebaiknya setiap hari selasa (selasan) mengikuti tawaju’an, dimana tawaju’an menurut Pak Nur Sahid adalah Meluberkan ngilmu dari guru kepada murid dengan saling berhadapan antara murid dengan mursyid.”

Kemudian juga mengikuti amalan khusus yang lain seperti dzikir (wirid), dimana dzikir secara lughawi artinya ingat, mengingat atau eling. Dzikir terbagi menjadi dua, yaitu dzikir bimakna ‘am (dzikir secara umum) dan dzikir bimakna khas (dzikir secara khusus).[3] Dzikir disini menurut Pak Nur Sahid adalah membaca kalimat toyyibah. Dzikir tersebut dapat dilakukan dimana saja baik di tempat sepi maupun di keramaian, Tetapi alangkah baiknya dilakukan ditempat sepi.

Berdasarkan wawancara dengan Pak Nur Sahid, beliau berkata neng wiridane iku coro niku undak-undakan, kelas-kelasan, kelas pertama iku dizikir peng 5000, kelas kedua iku dijumlahno eneh 1000, terus dimondokno meneh dijumlahnya 1000 meneh”. Itu berarti dalam Tarekat Kholidiyah Naqsabandiyah ketika mereka berdzikir terdapat tingkatan-tingkatannya. Pada tingkatan pertama mereka melakukan dzikir (wirid) sebanyak 5000 kali kermudian tingkatan yang kedua ditambah seribu lalu tingkatan selanjutnya ditambahkan seribu lagi. Untuk tingkatan terakhir yaitu membaca tahlil secara nabi itsbat, menurut Pak Nur Sahid nabi itsbat adalah dzikir tanpa bersuara dan dilakukan di dalam hati. Nabi itsbat ini mula-mula diawali dengan membaca dzikir tahlil sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan Muhammadur Rasullulah.Hal tersebut dilakukan ketika mereka di pondokkan di bulan-bulan tertentu, antara lain bulan Suro, Rajab dan Ramadhan dimana tiap bulannya hanya 10 hari mondok.

Manfaat yang didapat dengan mengikuti tarekat tersebut adalah hati merasa tenang dan tentram, serta imannya kuat.

  1. Telaah Kritis Dan Pembahasan

Bagaimana bisa tarekat menyucikan hati? di dalam surah Al-A’la ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang-orang yang telah mensucikan hatinya sesungguhnya telah memperoleh keberuntungan. Lalu dibenak kita timbul beberapa pertanyaan:

–          Apa yang dimaksud dengan hati yang bersih?

–          Bagaimana cara membersihkan hati?

–          Mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung?

–          Apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya?

Pertama, apa yang dimaksud dengan hati yang bersih? Menurut Syekh Muda ahmad Arifin yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu tidak ada di dalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah orang yang senantiasa selalu mengingat Allah. Itulah sebabnya para sufi berkata:

Sumber :

https://rakyatlampung.co.id/