Sistem Pemanenan RIL Soal Ujian Pemanenan Hutan

Sistem Pemanenan RIL Soal Ujian Pemanenan Hutan

Mata kuliah pemanenan hutan merupakan mata kuliah untuk memberitahu segala bentuk tujuan yang diprogramkan oleh pemanenan hutan itu sendiri. Dimana tujuan pemanenan hutan bertujuan untuk meningkatkan nilai hutan, mendapatkan produk hasil hutan yang dibutuhkan masyarakat, memberi kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar hutan, memberikan kontribusi kepada devisa negara dan membuka akses wilayah.

Di pemanenan hutan terdapat dua sistem yaitu sistem konvensial dan RIL (Reduced Impact Logging). Kedua sistem ini pada kegiatan pemanenan hutan dalam pemakaiannya direkomendasi pada sistem RIL . Dimana RIL merupakan penyempurnaan praktek kegiatan pemanenan hutan meliputi pembuatan jalan, penebangan dan penyadaran dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap pemanenan kayu yang memperhatikan kondisi ramah lingkungan.

Adapun perbedaan sistem pemanenan konvesial dan RIL yaitu Rata-rata  kerusakan total  yang  terjadi pada  pemanenan menggunakan metode CL (Conventional Logging)    adalah  33,77% atau  sebanyak  11,40 pohon/ha  sedangkan rata-rata kerusakan total  yang  terjadi pada  pemanenan menggunakan metode RIL adalah 24,21% atau sebanyak 8,50 pohon/ha. Kerusakan tegakan tinggal yang terjadi pada pemenenan menggunakan metode RIL lebih kecil dibandingkan dengan pemanenan menggunakan  metode CL.  Penerapan metode  RIL  mampu mengurangi  kerusakan tegakan tinggal sebesar 2,90 pohon/ha atau 9,56% (Sitanggang, 2011).

Di kampus kehutanan, materi-materi ini dibahas secara detail. Oleh sebab itu, ada beberapa pertanyaan yang menjadi hal terpenting diingat dan dilaksanakan dalam dunia kehutanan, diantaranya adalah.

Kegiatan apakah yang dilakukan sebelum penebangan pada hutan alam, yaitu pokok-pokok kegiatan pada : Et-3, Et-2 dan Et-1 ?

Et-3, merupakan kegiatan penataan areal kerja (PAK) yang dilaksanakan tiga tahun sebelum kergiatan penebangan. Dimana PAK ini merupakan kegiatan penebangan sebagai batas blok kerja tempat pelaksanaan penebangan sehingga menghindari adanya penebangan diluar blok kerja.

Et-2, merupakan kegiatan Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) yang dilaksanakan dua tahun sebelum kegiatan penebangan.

Et-1, merupakan kegiatan pembukaan wilayah hutan yang dilaksanakan satu tahun sebelum kegiatan penebangan.

Pada kegiatan ITSP, bagaimana pembagian  kriteria pohonnya? Bagaimana penandaannya?

Pembagian kriteria pohon:

  1. Pohon yang boleh ditebang, jenis niagawi berdiamater >50 cm untuk hutan produksi atau 60 cm untuk hutan produksi terbatas.
  2. Pohon yang dilindungi, jenis langka atau yang memberikan manfaat atau sumber pendapatan masyarakat.
  3. Pohon inti, jenis niagawi berdiameter 20-50 cm.

Penandaan pohon dilakukan pada bagian-bagian batang setinggi 1,50 m dari permukaan tanah, dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Pohon yang akan ditebang diberi tanda silang (X) warna merah
  2. Pohon inti diberi tanda warna kuning melingkar batang
  3. Pohon yang dilindungi diberi warna merah melingkar batang

Apa beda pembuatan takik rebah dengan cara biasa dan cara Humbolt?. Mana yang lebih menguntungkan? Mengapa?

Perbedaan takik rebah dengan cara biasa dan cara Humbolt

  1. Takik rebah cara biasa merupakan takik rebah yang umum digunakan pada penebangan hutan kayu rimba di hutan alam, sedangkan takik rebah secara Humbolt merupakan takik rebah yang umum digunakan pada kegiatan tebang habis di hutan jati.
  2. Takik rebah secara biasa memotong kayu dengan sudut 45 derajat berbentuk segitiga diatas penebangan atau batang kayu, sedangkan takik rebah secara secara Humbolt biasa memotong kayu dengan sudut 45 derajat berbentuk segitiga dibawah penebangan atau batang kayu.

Takik rebah Humbolt lebih menguntungkan dibandingkan takik rebah biasa karena kayu tidak banyak terbuang, disamping itu meringankan tenaga, waktu dan modal proses penebangan karena tidak perlu merapatkan pangkal pohon yang ditebang kerena terpotong rata.