Contoh Laporan Perjalanan

Contoh Laporan Perjalanan

Contoh Laporan Perjalanan

WISATA DI YOGJAKARTA; SEBUAH LAPORAN PERJALANAN

Pada libur semester ganjil kemarin, tepatnya 28 -30 Desember 2012, keluarga besar SMPN 1 Tegal mengadakan study tour yang merupakan perjalanan rekreasi tahunan. Perjalanan itu dilaksanakan bersama semua siswa dan siswi khusus kelas VIII saja. Sebelum Ujian Semester, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas pada siswa untuk membuat laporan dari rangkaian perjalanan tersebut.

Rombongan study tour SMPN 1 Tegal berangkat dari kota Tegal pada Rabu, 28 Desember 2012. Rombongan kami bertolak dari sekolah pada pukul 07.00 WIB. Kami berangkat menggunakan kendaraan pariwisata milik pemerintah kota Tegal. Saya berada di bus 1 bersama teman-teman dari kelas VIII A. Sementara bus lainnya ditumpangi oleh siswa VIII B, dan VIII D. Jumlah kami yang mengikuti kegiatan study tour ini tidak kurang dari 140 orang.

 Daerah tujuan wisata belajar kami adalah salah satu kota paling terkenal dan bersejarah di Indonesia, yaitu Yogyakarta. Dari Tegal ke Yogyakarta memakan waktu kurang lebih lima jam perjalanan. Selama perjalanan kami lalui dengan pemandangan yang sangat mengesankan. Saat sampai di Yogyakarta, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Borobudur. Candi ini merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Wahayana. Dalam sejarah Candi Borobudur, terdapat berbagai teori yang menjelaskan asal usul nama Candi Borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama Borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (Bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.

Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata Borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Pada hari ke dua kegiatan study tour kami, tempat yang kami kunjungi adalah Taman Pintar. Taman Pintar terletak di jantung kota Yogyakarta. Panitia mengagendakan kunjungan ke tempat ini mengingat bahwa Yogyakarta merupakan sebuah kota pelajar. Sejak terjadinya ledakan perkembangan sains sekitar tahun 90-an, terutama Teknologi Informasi, pada gilirannya telah menghantarkan peradaban manusia menuju era tanpa batas. Perkembangan sains ini adalah sesuatu yang patut disyukuri dan tentunya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi perbaikan kualitas hidup manusia.

Menghadapi realitas perkembangan dunia semacam itu, dan wujud kepedulian terhadap pendidikan, maka Pemerintah Kota Yogyakarta menggagas sebuah ide untuk Pembangunan “Taman Pintar”. Disebut “Taman Pintar”, karena di kawasan ini nantinya para siswa, mulai pra sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal materi-materi pelajaran yang telah diterima di sekolah dan sekaligus berekreasi.

Dengan Target Pembangunan Taman Pintar adalah memperkenalkan science kepada siswa mulai dari dini, harapan lebih luas kreatifitas anak didik terus diasah, sehingga bangsa Indonesia tidak hanya menjadi sasaran eksploitasi pasar teknologi belaka, tetapi juga berusaha untuk dapat menciptakan teknologi sendiri.

Bangunan Taman Pintar ini dibangun di eks kawasan Shopping Center, dengan pertimbangan tetap adanya keterkaitan yang erat antara Taman Pintar dengan fungsi dan kegiatan bangunan yang ada di sekitarnya, seperti Taman Budaya, Benteng Vredeburg, Societiet Militer dan Gedung Agung.

Menjelang kembali ke Tegal, kami menyempatkan diri mengunjungi pasar paling terkenal di Yogyakarta. Pasar Bringharjo adalah sentra oleh-oleh batik dari Yogyakarta. Pasar ini terletak di jalan Malioboro. Malioboro adalah kanal bisnis bagi kelompok Tionghoa yang di masa lalu memiliki sejarah hubungan naik turun dengan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Di Kotagede, kaum Tionghoa tidak diperbolehkan berdagang karena memang sudah ada mayoritas pebisnis pribumi seperti Kelompok Kalang dan Kelompok pedagang Muslim yang melingkar pada organisasi Muhammadiyah. Di tengah kota kelompok Tionghoa ini menjadikan Malioboro sebagai daerah modal untuk mengembangkan bisnisnya.

Selain itu Malioboro memberi jejak tersendiri pada dunia sastra indonesia pada umumnya maupun Yogya pada khususnya. Kisah ini terlacak saat tahun 1970-an, Malioboro tumbuh menjadi pusat dinamika seni budaya di Yogya. Malioboro menjadi ‘panggung’ bagi para seniman ‘jalanan’, dengan pusatnya senisono. Mungkin kita masih ingat julukan Presiden Malioboro pada Umbu Landu Paranggi cucu Raja Sumba, yang melahirkan murid-murid berkaliber “monster” dalam dunia sastra (alm) Linus Suryadi dan Emha Ainun Najib serta korys layun rampan, hingga ratusan pemuja umbu dalam lingkaran komuniats PSK (persada studi klub) . Daya hidup seni jalanan ini akhirnya mandek pada 1990-an setelah gedung Senisono ditutup.

Puas berwisata kuliner dan berburu oleh-oleh di Malioboro, kami putar haluan kembali ke Tegal. Selama dalam perjalanan kami juga berhenti di beberapa tempat untuk makan dan shalat. Kami sampai di Tegal pukul 02. 00 WIB pada 30 Desember 2012.

Perjalanan ini sangat sangat menyenangkan, dan dapat sebagai pengalaman selama kami bersekolah di SMPN 1 Tegal , selain itu pengetahuan dan wawasan kami bertambah setelah kami mengunjungi Candi Borobudur, Taman Pintar, dan Malioboro. Semoga suatu hari nanti, keluarga besar SMP kami tercinta kembali lagi melakukan perjalanan seperti ini, karena perjalanan ini meningkatkan rasa cinta kita pada tanah air.


Sumber: https://advertorial.co.id/intel-dan-mobileye-ciptakan-formula/