Pengumpulan dan penulisan AI-Qur’an

Pengumpulan dan penulisan AI-Qur’an

Pada masa Rasulullah saw., Al-Qur’an belum tersusun dan tertata mengingat proses turunnya wahyu masih berlangsung. Namun pada masa itu, Rasulullah saw. telah memerintahkan para sahabatnya agar menyusun, menata, dan menyimpan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diturunkan Allah Swt. kepada-Nya. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah saw. ditempuh dengan dua cara, sebagai berikut.

Pertama: Al-Jam`u fis Sudur; maksudnya, para sahabat langsung menghafalnya di luar kepala setiap kali Rasulullah saw. menerima wahyu dan menyampaikannya kepada mereka.

Kedua: Al-Jam`u fis Sutur; maksudnya, para sahabat diminta menuliskan kembali ayat-ayat Al-Qur’an setelah dibacakan oleh Rasulullah. Biasanya sahabat menuliskan Al-Qur’an pada Ar-Riqa’ (kulit binatang), Al-Likhaf (lempengan bate), Al-A ktaf(tulang binatang), atau Al-‘ Usbu ( pelepah kurma). Jumlah sahabat yang menulis Al-Qur’an pada waktu itu mencapai 40 orang.

Pengumpulan dan penulisan al-hadis

Pada mulanya Rasulullah saw. melarang para sahabat mengumpulkan dan menuliskan hadis-hadis dari beliau, dengan alasan sebagai berikut.

1)      Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan oleh beliau sebagai catatan pribadi.

2)      Rasulullah masih berada di tengah-tengah umat Islam sehingga dirasa tidak perlu untuk dituliskan pada waktu itu.

3)      Kemampuan baca tulis di kalangan para sahabat masih sangat terbatas, sedikit sekali para sahabat Rasulullah saw. pada masa itu yang bisa baca tulis.

4)      Umat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-Qur’an, sebagai satu-satunya sumber hukum dan aturan dari Allah Swt.

5)      Kesibukan-kesibukan umat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan dakwah yang sangat penting, terutama berjuang bagi perluasan dakwah Islam.

Akan tetapi pada perkembangannya, atas penjelasan dan argumen para sahabat, Rasulullah saw. akhirnya mengizinkan para sahabatnya yang tergolong sebagai pencatat wahyu untuk mencatat dan menyimpan hadis-hadis beliau sepanjang ada jaminan tidak akan keliru dari penulisan Al-Qur’an.

Di samping ilmu-ilmu keagamaan, pada masa Rasulullah saw. juga telah berkembang ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu perekonomian Islam, ilmu politik Islam, dan sebagainya. Bahkan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi pada masa Rasulullah saw. terus berkembang sampai sekarang. Banyak teori tentang ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak masa Rasulullah saw. digunakan pada zaman modern seperti sekarang. Di antaranya, teori invisible hands yang berasal dari Nabi Muhammad saw. dan sangat populer di kalangan ulama Islam. Teori ini berasal dari hadis Nabi Muhammad saw. sebagaimana disampaikan oleh Anas bin Malik sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di Kota Madinah. Hadis tersebut diriwayatkan sebagai berikut.

“Harga-harga melambung pada masa Rasulullah saw. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “Ya Rasulullah hendaklah engkau menentukan harga”. Rasulullah saw. berkata: “Sesungguhnya Allah-lah yang menetukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.“

Ucapan Nabi Muhammad saw. itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu sesuai dengan kehendak Allah yang dapat terjadi secara alamiah (sunnatullah), yang tidak bisa dibantah atau dikendalikan oleh siapa pun.

https://haciati.co/