INTERPRETASI

Table of Contents

INTERPRETASI

INTERPRETASI
INTERPRETASI

Sajak adalah tangan-tangan yang bekerja
Sajak adalah parang penebas hutan
Sajak adalah cerana
Sajak adalah kelapangan
Sajak adalah kerendah-hatian
Sajak adalah angin menepuk kuping
Sajak adalah suara jangkrik malam hari
Sajak adalah kabut di pelupuk mata
(Rusli Marzuki Saria)
Puisi tersebut mengungkapkan bahwa sajak adalah buah kerja tangan yang mampu menebas lebatnya hutan rimba. Ia adalah cerana (tempat ludah) para penyair untuk meludahkan imajinasi dan gagasan. Ia adalah kelapangan dan kerendah-hatian jiwa, ia serupa angin yang menepuk kuping atau merdu suara jangkrik di malam hari bagi pendengarnya. Ia juga merupakan kabut di pelupuk mata yang melihatnya.

Pada dasarnya puisi adalah pernyataan jiwa dan refleksi pengalaman batin setelah diolah secara total dan berkesinambungan. Karena itu, karya sastra yang dapat bertahan lama dan menjadi masterpiece pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan sumbernya maupun dengan orang-seorang. Ssatra terlibat dalam kehidupan dan menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya, dan dengan demikian sastra adalah eksperimen moral. Oleh karena itu pula sastra dapat didekati sebagai kekuatan material yang istimewa dan sebagai tradisi, yaitu suatu kecenderungan spiritual maupun kultural yang bersifat kolektif. Bentuk dan isi karya sastra yang demikian dapat mencerminkan perkembangan perubahan yang halus dalam watak kebudayaan.

Puisi di bawah ini kiranya dapat merangkum pembicaraan kita.

BELANTARA INI TERLALU GELAP UNTUK DIJELAJAH
apa yang kaucari?
dalam belantara ini?
sebuah nama
atau sebuah makna?
belantara ini terlalu gelap
untuk dijelajah.
(Dinullah Rayes)
Antara Penyair dan Puisi
Penyair adalah orang yang menulis puisi, itu sudah pasti. Namun bagaimana hubungan antara penyair dan puisi? Bagaimana penulis menulis puisi? Untuk apa? Mengapa? Hal inilah yang menjadi pokok pembahasan kita selanjutnya.

Karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk memberikan tanggapan terhadap lingkungannya, selain itu juga dapat memberikan pengertian yang dalam bagi penikmatnya tentang realitas-realitas yang disajikannya. Kenyataan demikian akan tampak semakin penting jika karya sastra yang hadir dapat dinikmati secara lebih meluas dan intensif oleh anggota masyarakat.

Penyair menangkap peristiwa, menghayati, kemudian menuliskannya dalam sebuah puisi. Sebuah puisi tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Seorang pakar bernama A. Teeuw menyatakan, sastra tidak pernah ditulis dari kekosongan budaya. Selalu ada stimulus yang memicu seorang penyair menulis puisi. Pada umumnya penyair selalu menghayati hidup dan kehidupan ini dengan intens. Karena itu ia sering menemukan misteri-misteri kehidupan itu dan mencatat dalam puisi-puisinya. Pengalaman-pengalaman hidup yang dilalui dan dihayatinya itu dituangkan dalam lirik-lirik puisi yang manis, yang menyenandungkan gerak sukmanya yang dekat dengan alam.

Setiap orang cenderung hendak mengekalkan berbagai pengalaman; merekamnya dalam wujud estetik. Contoh nyatanya, ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia tiba-tiba menjadi romantis, puitis, gemar menulis kata-kata indah, merangkai hingga membentuk puisi. Dengan demikian, praktis dia seorang penyair. Meskipun seringkali puisi-puisi ini disebut picisan oleh kritikus. Mengapa? Karena puisi tersebut tidak melalui proses perenungan yang mendalam, hanya menuangkan gejolak jiwa. Namun keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Ungkapan kejujuran seseorang menjadi dasar terbentuknya puisi.

Slamet Muljono mengungkapkan bahwa keindahan dalam seni adalah kenikmatan yang diterima oleh pikiran; dan kenikmatan itu bisa hadir bila ada keakraban antara subjek dan objek, antara pesona pemikat dan yang dinikmati. Jadi bahasa sendiri yang merupakan sarana komunikasi selalu ditandai oleh unsur rasa yang mengacu kepada pengalaman dan ekspresi estetik, dan unsur pikiran yang mengacu pada kerja intelektualitas. Lebih jauh lagi, NG Chernysevski mengemukakan bahwa ide penciptaan artistik biasanya tidak dibangkitkan dalam pikiran si seniman oleh hasrat menciptakan keindahan semata; seniman yang pantas disebut seniman selalu berkeinginan menyampaikan kepada kita lewat karya-karyanya itu: pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, perasaan-perasaan. Sebab bukan hanya keindahan yang diciptakannya.

Seluruh umur hidup manusia merupakan perjuangan yang tak habis-habisnya, perjuangan untuk memenangkan suatu ideal, suatu cita-cita yang dirancang demi indahnya hari depan. Namun perjuangan itu bukan satu-satunya yang ditempuh dan dijalani, sebab manusia sendiri terdiri dari badan jasmani dan badan rohani. Penyair menuangkan perjalanan fisik dan batin dalam bentuk yang kreatif, di mana penyair menampilkan tanggapan dan renungannya terhadap suatu masalah atau kejadian, terhadap peristiwa alam dan situasi sosial tertentu.

TELAH BANYAK KUTULIS
TELAH BANYAK KUTULIS TENTANG LANGIT
TENTANG LAUT, ANGIN DAN GUNUNG
TELAH BANYAK KUTULIS TENTANG HIDUP,
TENTANG MAUT, LARA DAN UNTUNG;
TELAH BANYAK
DAN MASIH AKAN KUTULIS TENTANG LANGIT,
TENTANG LAUT, ANGIN DAN BURUN-BURUNG;
TENTANG HIDUP, MATI DAN TENTANG CINTA
YANG MEMBERIKAN HARAPAN DAN KEPERCAYAAN
MEMBANGKITKAN MANUSIA
DAI LEMBAH PUTUSASA
DAN MENJALANKAN HIDUP LEBIH BERWARNA
(AJIP ROSIDI)
Sutan Takdir Alisahbana mendefinisikan puisi sebagai seni perkataan yang mesra. Mengapa? Sebab puisi merupakan ekspresi jiwa penyairnya secara merdeka. Penyair bisa menyatakan pengalaman fisik dan batinnya dalam kata-kata yang ekonomis, intens, magis atau bertuah; persaksian dirinya sebagai kreator dan inovator. Seorang penyair tidak begitu saja membiarkan setiap peristiwa berlalu, mereka sadar bahwa detik yang berlalu tak mungkin kembali. Maka mereka berusaha merekonstruksi kejadian dalam imajinasi.

Banyak alasan untuk menulis puisi. Seorang yang sedang ja

Sumber : https://zalala.co.id/artikel-berkualitas/