Ternyata Kartini Bukan Tokoh Emansipasi Wanita

Ternyata Kartini Bukan Tokoh Emansipasi Wanita

Cita-cita RA Kartini untuk jadi seorang khusus muslimah yang sholehah sudah diselewengkan oleh propaganda Belanda supaya tercitra jadi sosok pejuang emansipasi wanita.

Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai rancangan penyetaraan hak dan kedudukan pada pria-wanita untuk berperan didalam segala faktor kehidupan dan penghidupan, maka sesungguhnya perihal ini penggeseran cita-cita RA Kartini didalam menuntut belenggu yang halangi penterjemahan naskah buku-buku Islam kedalam bahasa Jawa.
Cita-cita RA Kartini menuntut kebebasan bangsanya didalam menuntut keterbukaan informasi dan pendidikan yang sudah dikekang pemerintah Hindia Belanda terlebih pembatasan gerak para wanita padahal wanita adalah guru perlu dari anak-anaknya. Dengan demikian secara praktis berlangsung pembodohan tunas-tunas bangsa yang berpotensi ancaman kolonial Belanda.

Penterjemahan Naskah Kitab-kitab Islam
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:
Mengenai agamaku, Islam, saya mesti menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya bersama dengan umat lain. Lagi pula, saya beragama Islam dikarenakan nenek moyangku Islam. Bagaimana saya mampu mencintai agamaku, terkecuali saya tidak mengetahui dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlampau suci; tidak boleh diterjemahkan ke didalam bahasa apa pun, supaya mampu dipahami tiap-tiap Muslim. Di sini tidak tersedia orang yang mengetahui Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tetapi tidak mengetahui apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tetapi tidak diajar arti yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh saya menghafal Bahasa Inggris, tetapi tidak memberi artinya.
Menolak Westernisasi
Kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia barangkali berlangsung akibat propaganda kolonial Belanda. Kesimpulan ini mampu ditarik dari korespondensi Kartini bersama dengan sejumlah tokoh perempuan di negeri penjajah itu yang lantas diekspos lewat fasilitas dan buku-buku. Semua ini barangkali sengaja dilakukan Belanda untuk menebar pertentangan dan perpecahan (Devide at Impera) sebagai taktik untuk menghancurkan dan melemahkan semangat pemberontakan nasional.

Ditengarai juga sebagai ajang akulturasi budaya dan nilai Belanda untuk menjamah struktur nilai dan budaya Indonesia supaya mampu tunduk dan simpati kepada kolonial Belanda. Maka tertanamlah di bumi Nusantara bibit-bibit westernisasi gender penyetaraan pada hak dan kewajiban pria wanita yang menyebabkan kerusakan potensi khas bakat yang tersedia terhadap perbedaan pria-wanita.

Cobalah mencermati surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon:
Sudah lewat masanya, semula kita mengira penduduk Eropa itu terlampau yang terbaik, tidak ada tara. Maafkan kami. Apakah ibu beranggap penduduk Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah didalam penduduk ibu terkandung banyak perihal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kita hendak menjadikan murid-murid kita sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis:
Saya bertekad dan berusaha melakukan perbaikan citra Islam, yang selama ini sering jadi sasaran fitnah. Semoga kita mendapat rahmat, mampu bekerja sebabkan agama lain menyaksikan Islam sebagai agama disukai.
Perhatikan pula surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis:
“Ingin benar saya memakai gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

RA Kartini Murid Kyai Sholeh Darat
Kepada teman-temannya bangsa Belanda Kartini tidak menceritakan pertemuannya bersama dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang yang lebih dikenal bersama dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini bersama dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan berlangsung didalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat menambahkan ceramah mengenai tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini mampu dipahami dikarenakan selama ini Kartini cuma mengetahui membaca Al Fatihah, tanpa pernah mengetahui arti ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak mampu mengelak, dikarenakan Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya menanyakan bagaimana hukumnya andaikata seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini mengakses dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tetapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng menanyakan demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini saya berkesempatan mengetahui arti surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, saya heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke didalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup senang dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak mampu berkata apa-apa terkecuali subhanallah. Kartini sudah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melaksanakan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke didalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak mampu dinilai manusia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini mengenai Barat (baca: Eropa) berubah.

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

KH Saleh Darat terlampau memengaruhi anggapan pejuang wanita Indonesia yaitu RA Kartini, hadiah paling miliki nilai didalam pernikahannya adalah kitab-kitab yang diterjemahkan bersama dengan huruf pegon (huruf arab untuk bahasa Jawa) bersama dengan demikian RA Kartini mampu mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an. Judul tulisannya “Habis Gelap Terbitlah Terang” terinspirasi dari penggalan ayat : “mina dzulumati ila nur“.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, nyaris di tiap-tiap saat luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, dikarenakan Kyai Sholeh meninggal dunia.

Baca Juga :