MEMBANDINGKAN KOPASSUS DENGAN KORLANTAS

MEMBANDINGKAN KOPASSUS DENGAN KORLANTAS

Pengungkapan pelaku penyerangan Lapas Cebongan menjadi prestasi tersendiri bagi tim investigasi dari TNI AD yang dibentuk oleh KSAD. Namun, prestasi itu tak lepas dari jiwa ksatria 11 prajurit Kopassus yang mengakui tindakannya sebagai pelaku penyerangan dan siap bertanggungjawab atas tindakannya tersebut. Bandingkan bersama jajaran Korlantas beserta mantan Ka Korlantas Irjen Pol Djoko Susilo!

Sudah menjadi sikap yang tertanam didalam diri bagian Kopassus untuk berjiwa ksatria. Dalam himne Kopassus sendiri tersedia syair berbunyi “Prajurit Komando berjiwa ksatria”. Jelas sekali jikalau mereka ditekankan untuk miliki sikap sebagai seorang ksatria, berani bertanggungjawab atas tindakan yang mereka melakukan apapun konsekuensinya.

Sikap ksatria tidak hanya ditunjukan oleh para prajurit pelaku penyerangan Lapas Cebongan melainkan termasuk ditunjukan oleh pimpinan tertinggi di korps baret merah, Danjen Kopassus. Sebagai Pimpinan tertinggi dia tidak lari dari tanggungjawab, justru Danjen Kopassus membuktikan siap bertanggungjawab atas tindakan anak buahnya, lebih-lebih dia siap menukar kepalanya bersama hukuman yang dijatuhkan untuk anak buahnya.

Inilah pernyataan Danjen Kopassus: “Jika boleh ditukar kepala untuk menekuni hukuman 11 bagian saya, maka Mayor Jendral TNI Agus Sutomo yang 5 th. ulang akan pensiun, siap menukar hukuman mereka apapun itu. Sebagai bentuk pengayoman aku kepada Anggota saya.”

Mantan Ka KORLANTAS (Tahanan KPK)

Lain halnya bersama Kopassus, Korlantas (Korps Lalu Lintas) yang sedang tercoreng wajahnya oleh tindakan Ka KORLANTAS Djoko Susilo yang berbelit menjadi tahanan KPK dan termasuk anak buahnya karena menilang seorang bule asal Belanda di Bali dan mabuk-mabukkan di didalam pos polisi bersama sang bule.

Tidak tersedia satu pun pimpinan dari korps lalu lintas yang bersedia membuktikan siap bertanggungjawab atas tindakan anak buahnya. Seolah-olah para pimpinan tidak mulai bersalah ketika tersedia anak buahnya melakukan tindakan melanggar hukum. Padahal mereka sendiri adalah aparat penegak hukum.

Apa yang berlangsung selanjutnya?? Aparat kepolisian di Bali justru tambah sebabkan video sebagai tandingan video yang diupload Van Der Spek, Bule asal Belanda yang menjebak sang oknum kepolisian. Dari video tersebut sangan paham nampak jikalau korps lalu lintas hanya melakukan sebuah pencitraan sehingga korps-nya tetap nampak bersih di mata penduduk sebagai penegak hukum di jalanan.

Bagaimana rakyat tidak menopang Kopassus yang melakukan penyerangan ke Lapas Cebongan sehingga menewaskan 4 preman yang tetap meresahkan penduduk walaupun tindakan oknum Kopassus sebetulnya termasuk keliru jikalau diamati dari kacamata hukum. Sedangkan aparat hukumnya sendiri tambah menjadi preman jalanan yang siap menilang orang-orang yang kadang tidak bersalah dan duit tilangnya pun entah lari kemana.

Baca Juga :