PKBM Dipandang Sebelah Mata

PKBM Dipandang Sebelah Mata

PKBM Dipandang Sebelah Mata
PKBM Dipandang Sebelah Mata

CIMAHI –Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Mandiri sekaligus Ketua Forum Tutor Kesetaraan Kota Cimahi, Iwan Sunarya berharap agar para lulusan PKBM tak seharusnya dipandang sebelah mata oleh penyedia lapangan kerja atau masyarakat umum.

Apalagi, sebut dia jika merujuk pada Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003,

tentang penyelenggaraan pendidikan. Dimana kata dia, wajib memegang beberapa prinsip, yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

Menurutnya dengan demikian, seharusnya lulusan PKBM paket A, B, dan C setara dengan pendidikan formal. Karena cakupan materi, beban belajar, dan standar kelulusan (SKL) sudah sesuai dengan ketentuan kementerian pendidikan.

”Hanya yang unik dari siswa kami itu, adalah proses mencapainya karena melalui tiga strategi, yaitu tatap muka, tutorial, dan mandiri,” ujarnya ketika mengawas pelaksanaan UNBK paket C, di SMK Negeri 2 Kota Cimahi, Sabtu (22/4).

Diakuinya, hingga saat ini memang secara umum masih banyak yang meragukan dan memandang sebelah mata lulusan PKBM. Stigma negatif tersebut muncul karena masyarakat Indonesia belum berpikiran terbuka mengenai lulusan paket keseteraan.

”Lulusan kami yang bekerja di suatu instansi juga bisa menjabat posisi strategis.

Misalnya yang awalnya security sekarang bagian administrasi, yang dulunya bagian pengepakan sekarang jadi kepala pemasaran,” bebernya.

Mengenai kendala yang dialami oleh siswanya, biasanya karena berbenturan dengan waktu kerja mereka. Kendala lainnya, ketika pelaksanaan UNBK seperti sekarang ini muncul dari ketiadaan sarana dan prasarana. Dirinya mengklaim, selama ini pihaknya tidak pernah ditunjang atau dibantu oleh pemerintah.

”Karena mereka mayoritas sudah bekerja, paling dari membagi waktu saja yang harus disesuaikan. Dukungan sih masih sangat kurang, gedung aja kita cari sendiri,” jelasnya.

Meski demikian, Iwan menyebutkan dari tahun ke tahun jumlah siswa PKBM terus meningkat.

Dilihat dari peserta ujian nasional tahun sebelumnya yang mencapai 400 siswa, pada tahun 2017 ini hampir mencapai 500 siswa.

”Meskipun sekolah formal sampai SMP sudah di gratiskan, tapi tetap saja banyak faktor lainnya yang menyebabkan meningkatnya jumlah siswa PKBM, seperti kenakalan remaja, faktor ekonomi, pergaulan, lingkungan, yang akhirnya mempengaruhi konsistensi belajar mereka,” sebutnya.

 

Sumber :

https://voi.co.id/