Olahan Daun Kelor Antarkan Meybi Agnesya Raih Rp 250 Juta

Olahan Daun Kelor Antarkan Meybi Agnesya Raih Rp 250 Juta

Olahan Daun Kelor Antarkan Meybi Agnesya Raih Rp 250 Juta
Olahan Daun Kelor Antarkan Meybi Agnesya Raih Rp 250 Juta

Belum meratanya sekolah atau lembaga pendidikan di daerah terpencil di Nusa Tenggara Timur

(NTT) telah membuat masyarakat desa sangat tertinggal akan kemampuan soft skill di berbagai sektor, seperti pertanian dan industri. Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan bagi Meybi Anesya Lomanledo yang kemudian terdorong untuk mengikuti program pengembangan sociopreneurship “Secangkir Semangat #BuatNyataTujuanmu” yang diselenggarakan PT Santos Jaya Abadi melalui merek Kopi Kapal Api sepanjang 2018, dan berhasil menjadi juara pertama dengan membawa pulang hadiah Rp 250 juta, serta mentoring bersama wirausahawan Yoris Sebastian selama 6 bulan.

Dalam acara media briefing usai pemberian penghargaan di Jakarta, pada Sabtu (23/2) malam, Meybi mengungkapkan motivasinya mengikuti program berawal dari iseng dan karena merasa bahwa tagar (#) yang diusung Kopi Kapal Api sangat sejalan dengan tujuannya untuk menunjukkan Nusa Tenggara Timur (NTT) punya sumber daya alam, khususnya daun kelor, dan bisa mengelolanya.

Bersama dengan rekannya, Kiki Nurizki, Meybi kemudian mengikuti program

“Secangkir Semangat#BuatNyataTujuanmu” dengan mengirim proposal ide usaha untuk mengembangkan bisnis pengolahan pangan berbasis daun kelor, yang dimulai dari pembentukan sekolah lapangan daun kelor yang efektif dan efisien.

“Warga mendambakan pendidikan keterampilan yang peka terhadap kebutuhan sosial budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, kami bertekad membangun Sekolah Lapangan Timor Moringa Organik Indonesia (SL-TMOI) untuk melatih kemampuan warga Desa Pitay Nusa Tenggara Timur bertani daun kelor secara efektif dan efisien. Kemudian kami juga berencana membangun fasilitas teknologi rumah pengering daun kelor,” ujar dia.

Saat ditanya mengenai konsep sosial dari ide usaha pengolahan daun kelor,

Meybi menjelaskan bahwa daun kelor di NTT sendiri sebenarnya masih dipandang sebelah mata, padahal sumber daya alam ini sangat berlimpah di NTT, dan mengandung khasiat yang sangat banyak.

“Di situlah saya memutar otak bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan sesuatu dari ini dan timbul sekolah lapangan ini, karena ada banyak sekali aspek, banyak sekali masalah di NTT, salah satunya adalah keterbelakangan soft skill dan malnutrisi. Jadi, lewat daun kelor bisa menjawab masalah itu, pertama untuk ekonomi keluarga, kedua untuk malnutrisi. Lewat sekolah lapangan ini, kami hadir untuk banyak sekali membantu, khususnya para petani, membantu akses pasar, membantu keluarga para petani supaya bisa memenuhi gizi, memenuhi kebutuhan ekonomi mereka lewat daun kelor,” jelasnya

Melalui ide usaha tersebut, Meybi ingin memperlihatkan tujuannya mengolah daun kelor dan tujuan yang ingin diberikan untuk NTT. “Kita pengen banget membuat bahwa ini lho tujuan kami buat kelor, ini lho tujuan kami untuk NTT, dan puji Tuhan, lewat semua yang sudah dikasih ke kami pada hari ini, kami sangat senang, bangga, sangat exciting dan tentunya sudah ada satu beban lagi di bahu kami untuk kami buat nyata tujuan kami, untuk bisa merealisasikan, meng-apply apa yang sudah kami dapat dari semua mentor dan tentunya goals-nya harus menjadi nyata,” kata dia.

Ada pula Azis Pusakantara dari Jakarta yang terpilih sebagai juara kedua dan berhak atas dukungan dana sebesar Rp 100 juta guna memujudkan ide usaha Eco-Pavings, yakni pembuatan paving block yang memanfaatkan limbah kantong plastik (kresek) dengan memberdayakan para pemuda pengangguran di Citereup, Bogor.

 

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/08/sejarah-siti-fatimah-lodaya.html