Ketika Taufiq Ismail Bertutur Mengenai Masa Kecil

Ketika Taufiq Ismail Bertutur Mengenai Masa Kecil

Ketika Taufiq Ismail Bertutur Mengenai Masa Kecil
Ketika Taufiq Ismail Bertutur Mengenai Masa Kecil

Korea Selatan kedatangan Bapak Sastra Indonesia yaitu Taufiq Ismail pada Minggu

(21/10). Kedatangan Taufiq ke Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Korea Selatan adalah untuk menghadiri acara penerbitan kumpulan buku puisi yang berjudul Debu di Atas Debu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea.

Kesempatan emas bertemu langsung dengan Taufiq tidak disia-siakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang berada di Korea. Sebagian peserta berasal dari jurusan teknik yang sangat awam terhadap karya sastra. Meskipun dari latar belakang pendidikan yang berbeda, ketertarikan terhadap bidang sastra seperti membaca dan membaca masih sama.

Acara dimulai pada pukul 13:30 KST di lantai 2 gedung KBRI Seoul, Korea Selatan.

Acara dibuka oleh Aji Surya selaku perwakilan KBRI dan Presiden Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA), Aldias Bahatmaka, yang pada kesempatan itu membawakan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul “Aku”. Acara pun berlanjut dengan dipandu Annisa Luthfiarrahman selaku moderator.

Taufiq menceritakan asal-muasal kecintaannya terhadap puisi yang dimulai sejak kecil. Ketika itu, sang ayah yang juga merupakan seorang penulis berita strip di salah satu koran di Semarang menulis sebuah berita. Taufiq Ismail semasa kecil yang sedang membaca berita di koran terkejut melihat tulisan ayahnya dan merasa bangga.

Itulah awal mula keinginan supaya karyanya juga dimuat sehingga beliau

mulai menulis cerita. Namun tulisannya masih tidak menarik. ’’Kemudian ayah saya menyarankan untuk menulis gurindam yang akhirnya dimuat di sebuah koran lokal. Keesokan harinya, saya pun membawa koran yang memuat karyanya ke sekolah untuk dipamerkan. Sejak saat itu, saya terus menulis puisi dan kecintaannya pada puisi tak pernah pudar,’’ paparnya. (*)

 

Baca Juga :