Masalah Pendidikan di Indonesia, Putus Sekolah sampai Salah Jurusan

Masalah Pendidikan di Indonesia, Putus Sekolah sampai Salah Jurusan – Pendidikan masih menjadi isu yang tak pernah habis dirundingkan di negeri ini. Masih tidak sedikit sekali permasalahan edukasi yang terdapat di Indonesia sampai-sampai mendorong tidak sedikit pihak untuk mengerjakan aksi demi memperbaiki situasi ini.

Salah satu pengamat edukasi dan penggagas sekian banyak gerakan di bidang pendidikan, Najeela Shihab mengungkapkan, terdapat tiga permasalahan edukasi yang utama di Indonesia.

“Pertama ialah akses, terdapat anak yang tidak dapat sekolah atau jauh sekali dari sekolah, terdapat yang telah sekolah tapi lantas putus sekolah,” kata perempuan yang punya panggilan akrab Ela ini dalam acara peluncuran Wardah Inspiring Movement di Restoran Bunga Rampai, Jakarta.

Kemudian, masalah kualitas. Berdasarkan keterangan dari Ela, mereka yang telah sekolah belum pasti belajar. Karena masih terdapat anak Indonesia yang telah 2-3 tahun sekolah namun masih belum dapat membaca. Ada anak yang telah lulus sekolah menengah namun masih laksana anak ruang belajar tiga sekolah dasar.

Di samping itu, masih tidak sedikit anak-anak yang dapat membaca kalimat tapi melulu sekadar menyimak saja, tanpa mengetahui isinya sampai-sampai mereka tidak punya sikap kritis.

Banyak pula mahasiswa yang masuk perguruan tinggi kesayangan tapi mereka salah jurusan, dan sebab mereka merasa tidak cocok dengan diri mereka kesudahannya mereka tidak dapat optimal.

“Sekadar masuk sekolah saja tidak cukup, tapi mesti terdapat kualitas belajar,” imbuh Ela.

Isu ketiga ialah masalah kesenjangan. Sebagian kecil anak dapat mendapatkan edukasi yang baik, akses yang baik, dan ekosistem mendukung, namun masih tidak sedikit anak yang berada dalam situasi memprihatinkan sampai-sampai menjadi isu sosial di masyarakat.

Permasalahan ini pula yang mendorong Ela mengusulkan gerakan Semua Murid Semua Guru, di mana di antara program di dalamnya terdapat yang dinamakan dengan Kirim Budi. Kirim Budi adalahsebuah gerakan mengantarkan flashdisk yang isinya dinamakan Ela sebagai ‘mimpi’.

“Mimpi tentang profesi yang sebelumnya tidak terbayang oleh anak-anak di pelosok,” kata Ela.

Selama ini andai kita berkeliling dan bertanya pada anak-anak, apa cita-cita mereka, jawabannya tidak jauh dari profesi laksana polisi, dokter, guru, atau tentara. Padahal, masih ada bisa jadi pekerjaan beda di luar sana.

Di samping berisi tentang profesi, flashdisk tersebut juga terdapat yang mengandung video pembelajaran. Alasannya, masih tidak sedikit sekolah-sekolah di pelosok yang kekurangan tidak sedikit guru.

Jika mengirim guru dalam format sosok, bakal ada tidak sedikit sekali kendalanya. Tapi, mereka masih dapat mendapatkan pertolongan guru dalam format video atau digital.

Dengan demikian, anak-anak di pelosok tetap dapat mendapatkan akses pembelajaran cocok dengan kurikulum. Serta, menambah kualitas belajar mereka sebab belum pasti guru di wilayah dapat menjelaskan semua pelajaran belajar.

Baca diĀ www.sekolahan.co.id